Minimalkan Pengangguran, Boyolali Genjot Upaya Kemudahan Berinvestasi

1000535652

SOAL PENGANGGURAN, Komisi C DPRD Provinsi Jateng mendiskusikan program pengentasan pengangguran di Kabupaten Boyolali, Selasa (12/8/2025). (foto ayuandani dwi purnama sari)

BOYOLALI -Untuk mendukung program pemerintah dalam pengentasan kemiskinan, Komisi C DPRD Provinsi Jateng berkunjung ke Pemkab Boyolali, Selasa (12/8/2025). Disana, Dewan mendiskusikan soal program pengentasan pengangguran melalui Pemberdayaan BUMD dan Swasta. 

Pada kesempatan itu, Sekretaris Komisi C DPRD Provinsi Jateng Anton Lami Suhadi menjelaskan maksud kunjungan di Kabupaten Boyolali. Pihaknya ingin mendapatkan informasi mengenai sektor UMKM dan pola bantuan corporate social responsibility (CSR) berperan dalam pengentasan pengangguran.

“Kami kesini karena ingin melihat dari dekat dan mendengarkan informasi dalam rangka mengentaskan pengangguran. Intinya adalah bagaimana Kabupaten Boyolali memberikan ruang seluas-luasnya untuk membuka lapangan kerja kepada masyarakat untuk pertumbuhan ekonomi. Lalu, bagaimana mengembangkan UMKM di Boyolali dan bagaimana Boyolali mendorong daya ungkit investor ke Boyolali sehingga menggerakkan investasi di Boyolali. Dan terakhir, bagaimana CSR di Boyolali. Kalau hal ini terus tumbuh berkembang, harapannya pengangguran berkurang dan bisa mengurangi kemiskinan di Jateng,” jelasnya.

Sementara, Anggota Komisi C Muhammad Afif menanyakan CSR lain yang masuk di Boyolali selain Bank Jateng. Disamping itu, pihaknya ingin mengetahui program OPD dalam pengentasan pengangguran.

“Penanganan pengangguran harus diperhatikan bersama, saya ingin tahu selain Bank Jateng, apakah ada bank lainnya ataupun swasta yang menjadi CSR di Boyolali. Yang kedua, biasanya adanya tumpang tindih OPD dalam membuat program, disini apakah ada. Lalu, program unggulannya disini apa,” tanya Afif.

Maria Tri Mangesti, Anggota Komisi C lainnya, juga menanyakan mengenai peraturan dan pengawasan CSR di Boyolali. Menurut dia aturan dalam penyaluran CSR itu dibutuhkan agar tata kelola penyalurannya lebih tepat sasaran.

“Apakah penerapan CSR perbankan atau swasta sudah terbentuk perda, nanti untuk pemerintah bagaimana pengawasannya,” kata Maria.

Sementara, Anggota Komisi C Naryoko menyoroti data dasar ketenagakerjaan di Kabupaten Boyolali. Selain itu, peran Balai Latihan Kerja (BLK) dan Lembaga Pendidikan/ Ketrampilan (LPK) seperti apa dalam rangka pengentasan kemiskinan.

“Data pengangguran ada 20.496, lalu pencari kerja 2.496, lowongan kerja 8.875, nah ini yang salah dimana. Apa yang diminta kualifikasinya, ketrampilan tidak mampu menjawab kebutuhan pasar kerja? Jangan-jangan yang dibutuhkan apa lulusannya apa. Lalu, kita bandingkan juga lulusan BLK atau LPK, apakah bisa memenuhi 100 persen. Kalau lulusn BLK atau LPK bisa memenuhi 100 persen, kita tingkatkan saja dari situ,” terangnya.

Menanggapi Dewan, Sekda Kabupaten Boyolali Wiwis Trisiwi Handayani menjelaskan mengenai bantuan CSR dalam upaya pengentasan pengangguran. Ia menilai saat ini tingkat pengangguran di Boyolali telah mengalami pengangguran.

“Secara garis besar di Jateng, pengangguran sudah menurun, begitu juga di Kabupaten Boyolali. Secara CSR dari Bank Jateng di Boyolali, tercatat hampir Rp 2 miliar pada 2024. Pada 2025, APBD sudah menyiapkan anggaran Rp 1 miliar untuk CSR Bank Jateng dan memanfaatkan BPJS untuk membayar pengangguran di Boyolali,” jelas sekda.

Plt. Dinas Koperasi & Tenaga Kerja (Diskopnaker) Kabupaten Boyolali Sawitri Danik Rahayuni menambahkan ada beberapa langkah penanganan pengangguran di Kabupaten Boyolali. “Kami sudah berkolaborasi dengan pihak swasta dan BUMD, pelatihan dan pengembangan SDM. Lalu, ada pelatihan-pelatihan untuk difabel,” kata Danik. 

Plt. Kepala DPMPTSP Kabupaten Boyolali Ahmad Ghozali menjelaskan mengenai insentif yang ada saat ini. Dikatakan, di Boyolali memiliki Perda Nomor 9 Tahun 2022 tentang penanaman Modal, pasal 25 menjelaskan insentif dan kemudahan investasi di Kabupaten Boyolali.

“Insentif itu jarang digunakan tapi yang digunakan adalah kemudahan kepada investor yang mau investasi di Boyolali. Pada 2024, ada 6 RDTR (Rencana Detil Tata Ruang) yang sudah selesai dan pada 2025 ini kami masih menyusun 8 RDTR, yang ini sudah termasuk banyak. Lalu, RDTR juga sudah terintegrasi di OSS sehingga memudahkan investor menanamkan investasi di Boyolali,” jelas Ahmad.

Sekda menambahkan, “insentif dari sisi pendapatan memang tidak dicantumkan berapa targetnya tapi realisasi dalam RPJMD sudah tertutup. Pada 2024, hampir Rp 3 miliar dan itu menjadi motivasi untuk Boyolali semakin maju, nyaman dihuni, berdaya saing, ramah investasi, dan menuju Boyolali Emas 2028.” (bintari/ariel)

Info Lainnya

  • DPRD Jateng Dukung Collaborative Government

    SUKOHARJO – DPRD Provinsi Jateng mendukung prinsip pemerintahan kolaboratif (collaborative government) dalam pembangunan daerah. Prinsip itu disampaikan Gubernur saat memberikan sambutan dalam acara Pelantikan Pengurus DPD Partai Golkar Provinsi Jateng periode 2025-2030 di Hotel Grand Mercure, Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (5/9/2026)

  • RAPAT PARIPURNA: Rumuskan Renja, Pokir DPRD 2027, & Pembukaan Masa Persidangan Pertama Tahun Sidang 2026/2027

    GEDUNG BERLIAN – Dalam rapat paripurna, Kamis (3/9/2026), DPRD Provinsi Jateng membahas beberapa agenda. Diantaranya persetujuan rencana kerja (renja) DPRD 2027, persetujuan pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD 2027, dan Penutupan Masa Persidangan Ketiga Tahun Sidang 2025/2026 & Pembukaan Masa Persidangan Pertama Tahun Sidang 2026/2027

  • Komisi E Bahas KB Pascapersalinan di Dinas P3AP2KB Kabupaten Tegal

    TEGAL — Komisi E DPRD Provinsi Jateng berdiskusi dengan Dinas P3AP2KB Kabupaten Tegal, Rabu (2/9/2026), untuk memperoleh data dan informasi terkait penguatan kebijakan serta komitmen pemerintah daerah guna peningkatan Keluarga Berencana Pascapersalinan (KBPP). Berdasarkan paparan Pemerintah Kabupaten Tegal, jumlah ibu bersalin hingga Juli 2026 mencapai 9.887 orang, dengan estimasi persalinan sepanjang tahun sebanyak 19.344 orang

  • Rehabilitasi Berkelanjutan untuk Menangani Lahan Kritis

    SURAKARTA – Luas lahan kritis di Provinsi Jateng selama 3 tahun terakhir berkurang sekitar 75 ribu hektare. Capaian itu menjadi modal penting pemerintah daerah untuk terus memperkuat rehabilitasi hutan dan lahan, sekaligus mencegah munculnya kawasan kritis baru yang berpotensi memicu bencana

  • Aliansi Jateng Guyub Sampaikan Aspirasi ke DPRD & Pemprov Jateng

    GUBERNURAN – DPRD Provinsi Jateng membuka ruang dialog untuk mengawal tuntutan yang disampaikan Aliansi Jateng Guyub kepada Pemerintah Provinsi. Sejumlah aspirasi warga dari berbagai daerah itu pun mulai ditindaklanjuti, mulai dari persoalan penyediaan truk angkutan tebu hingga peninjauan aktivitas tambang Galian C

  • Balai Tahura Karanganyar Butuh Pembenahan

    KARANGANYAR – Komisi D DPRD Provinsi Jateng menaruh perhatian serius terhadap masih terbatasnya sarana dan prasarana di Balai Taman Hutan Raya (Tahura) KGPAA Mangkunagoro I. Sejumlah fasilitas dinilai perlu segera dibenahi dan dilengkapi agar kawasan hutan seluas 2.549 hektare itu semakin optimal menjalankan fungsi konservasi, edukasi, mitigasi bencana hingga wisata alam