MEDIA TRADISIONAL: Udar Rasa Pementasan Wayang Berdaptasi dengan Zaman

1142161f 7f00 4101 98c4 46fe5ca80aa2

SERAHKAN WAYANG : Anggota DPRD Jateng Riyono menyerahkan wayang dalam pementasan ‘Melok Nggendog Lali’ di Petarukan, Pemalang.(foto: dyana sulist)

PEMALANG – Berkembangnya sebuah peradaban zaman menjadikan kesenian bukan lagi sebuah tontonan. Kesenian bisa menjadi sarana pendidikan, media informasi, bahkan untuk bertransformasi. Lompatan ini patut disikapi secara serius oleh pelaku kesenian. Diharapkan jangan ada pelaku seni gagap teknologi supaya kesenian hidup dan berkembang.

Demikian udar rasa yang disampaikan anggota Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah, Riyono saat menjadi narasumber dalam acara Media Tradisional di Sanggar Kesenian HW, Kecamatan Petarukan, Pemalang, Sabtu (9/4/2022). Selanjutnya pada acara yang diselenggarakan DPRD Jateng itu digelar pementasan wayang kulit secara ringkas dengan lakon “Melik Nggendong Lali“. Selain wayang turut digelar pentas tari dan dagelan dari pegiat seni ngapak.

Riyono tak menafikkan, perkembangan tekonologi sekarang ini memiliki dampak negatif yang diterima. Orang sekarang ini terlebih kalangan muda gemar berdiam diri, berlama-lama di hadapan gawai, berselancar di media sosial dan media online. Kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi pelaku kesenian dan budaya.

“Kita berharap anak muda bisa menggemari kesenian tradisional, tetapi harapannya inovasi juga muncul pada kesenian itu sendiri. Dengan tetap memperhatikan pakem yang ada. Semisal menyelenggarakan wayang dengan durasi pendek, ini tantangan buat kita semua,” ujar politikus PKS.

Selanjutnya dalang Ki Mangun Yuono mengajak pegiat seni untuk turut serta membuat dan mendokumentasikan kesenian lebih menarik. Dimulai dengan pemilihan waktu tampil, materi, bahasa, serta penggunaan teknologi.

“Tidak ada pementasan kebudayaan di dunia yang lama terkecuali pagelaran Wayang. Semalam suntuk. Padahal orang zaman sekarang apalagi anak muda lebih memilih hiburan, tontonan, yang sederhana dan berdurasi pendek. Kenapa tidak, wayang kita sesuaikan,” jelasnya.

Pegiat Pendidikan Kebudayaan Hersom mengungkapkan saat ini minim peminat apa lagi pegiat, terutama dikalangan anak Muda sebagai penerus jati diri bangsa.

“Kami selaku pecinta kebudayaan yang tumbuh dari kesabaran Masyarakat merasa perlu adanya campur tangan, bantuan dari pemerintah untuk memperluas rasa kecintaan terhadap jati diri Bangsa ini.” Kata Ketua Sanggar HW Petarukan Pemalang itu.(dyana/priyanto)

Berita Terkait

  • Dipantau, Pilar Batas Jateng dan Jatim

    MAGETAN – Pengelolaan pilar batas daerah menjadi concern Komisi A DPRD Provinsi Jateng untuk mempertegas sekaligus menghindari permasalahan yang terkait kewenangan dan pemeliharaan aset. Seperti saat Komisi A memantau lokasi pilar batas di Kabupaten Karanganyar dan Wonogiri yang berbatasan dengan Kabupaten Magetan Provinsi Jatim, Selasa (25/2/2020).

  • Jateng Siap Hadapi Nataru & Pemilu

    GUBERNURAN – DPRD Provinsi Jateng meminta setiap dinas/ instansi terkait jelang Hari Libur Natal 2023 & Tahun Baru 2024 (Nataru) dapat bersiap dan mengantisipasi semua keadaan pengamanan perayaan ibadah Natal di beberapa titik gereja tidak lepas juga ditingkatkan.

  • DPRD Dukung BNNP Tanggulangi Narkotika

    TERIMA AUDENSI : Waki Ketua DPRD Qualty Abdulkadir dan Ketua Komisi A Mohammad Saleh menerima audensi dari BNNP Jateng.(foto: ganang faizol) GEDUNG BERLIAN – Wakil Ketua DPRD Quatly Alkatiri bersama Ketua Komisi A Mohammad Saleh mendukung program pencegahan, penyalahgunaan narkotika…

  • Tangani Covid-19, Peran DPRD Tak Setengah-setengah

    GEDUNG BERLIAN – Anggota Komisi A DPRD Jateng, Saiful Hadi menjadi narasumber dalam Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) secara virtual yang dilakukan oleh peserta Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri Dikreg Ke-29 Tahun 2020.