MEDIA TRADISIONAL: Seni Gedruk, Tarian Buto yang Berkembang di Kaliwungu

WhatsApp Image 2022 10 23 at 16.01.52

PENARI BUTO: Para penari buto seni gedruk pada acara pementasan di lapangan Kantor Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang.(foto: cahyo depe)

UNGARAN – Sekilas melihat kesenian Tari Gedruk dari gerak dan pakaian sama mirip dengan Tari Topeng Ireng. Kedua seni tari ini sama-sama banyak menggunakan gerakan hentakan kaki dan kelincahan si penari. Bahkan kaki dari para penari dipasangi asesoris krincing yang terbuat dari logam kuningan dengan jumlah banyak, sehingga membuat suara gemerincing saat kaki para penari dihentakkan.

Pada kegiatan Media Tradisional (Metra) DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sabtu (22/10/2022), Tari Gedruk dipentaskan di lapangan Kantor Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang. Ketua DPRD Jateng Bambang Kusriyanto mendukung pengembangan seni Tari Gedruk. Para penari kebanyakan anak-anak muda. Pelibatan mereka sangat dibutuhkan sebagai salah satu bentuk nguri-uri serta nguripi kesenian daerah.

Dalam dialog acara itu, anggota DPRD Kabupaten Semarang Sutanto mengakui kesenian di Kaliwungu banyak dipengaruhi dari Boyolali. Sebagai daerah di tapal batas dengan Kabupaten Boyolali, tentulah Gedruk sama mirip dengan Topeng Ireng.

“Namanya kesenian, tidak ada istilah ini dari Kaliwungu, ini dari Boyolali. Sepanjang pengembangan maupun pemberdayaan kesenian maju, kami di DPRD tetap menyokongnya,” ucap putra asli Kaliwungu itu.

Melihat tari tersebut, lanjut dia, tak terlalu rumit sebagaimana tari Jawa pada umumnya. Tari Gedruk menggambarkan kemarahan buto Gunung Merapi. Entah siapa yang menciptakan seni tari itu. Selain asesoris lonceng kecil pada kaki, para penari menggunakan topeng dengan wujud menyeramkan dengan mata melotot dan seringai gigi taring.   

Pemerintah Kabupaten Semarang, lanjut Tanto, selalu memberikan bantuan APBD pada kelompok kesenian. Termasuk aspirasi melalui Ketua DPRD Jateng Bambang Kusriyanto ada untuk pengembangan kelompok kesenian.

“Hanya saja bagi penerima bantuan kesenian itu setiap tahunnya tidak boleh secara berturut-turut mendapatkan anggaran. Pada tahun 2023 saja, dari hasil verifikasi usulan aspirasi ada yang sudah menerima sehingga kami coret,” ucapnya.

Camat Kaliwungu Suyana turut menambahkan, wilayahnya yang berbatasan langsung dengan Boyolali banyak kesenian yang muncul. Kuda lumping, tari Jawa, wayang kulit juga sebenarnya ada dan berkembang di Kaliwungu.(soni/priyanto)   

Berita Terkait

  • Komisi B Dukung Pengembangan Wisata Kendal

    KENDAL – Komisi B DPRD Jawa Tengah melihat perkembangan potensi wisata di Kendal perlu dioptimalkan. Meski berada di daerah Pantura, Kendal memiliki kekayaan alam yang melimpah. Terlebih berada di daerah selatan, salah satunya di objek wisata Nglimut yang berada di Kecamatan Boja.

  • Komisi D Pelajari Kebijakan Bali Terapkan Penggunaan Kendaraan Listrik

    DENPASAR – Sistem transportasi dan teknologi ramah lingkungan di Provinsi Bali menjadi perhatian khusus dari Komisi D DPRD Jawa Tengah. Sekarang ini Bali tengah menerapkan Pergub No 48/2019 tentang Penggunaan Kendaraan Listrik (EV), melalui penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) dalam mewujudkan Nagun Sat Kerthi Loka yaitu wujud Pulau Bali yang Bersih, Asri dan Harmonis melalui program Pengembangan Energi Bersih dan Transportasi Rendah Karbon.

  • Komisi E: Raperda Penyelenggaraan Tenaga Kerja Masuk Tahap Finalisasi

    JAKARTA – Masuk tahap finalisasi Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penyelenggaraan Tenaga Kerja ada beberapa poin catatan masukan dari jajaran Direktorat Jendral Otonomi Daerah (Ditjen Otda). Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan Komisi E DPRD Jateng saat bertandang ke Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Jumat (22/9/2023) .

  • Pertumbuhan Bank Jateng Cabang Kudus Melambat

    KUDUS – Komisi C DPRD Jateng mengaku kecewa terhadap kinerja Bank Jateng Cabang Kudus yang tidak dapat bertumbuh seperti layaknya sebuah bank. Banknya Wong Jawa Tengah itu juga dinilai tidak mampu menguasai pasar di kandangnya sendiri.