MEDIA TRADISIONAL : Jaga Eksistensi “Sri Panggung” Seni Lengger

1

KAJI LENGGERAN: Anggota DPRD Jateng Mukhlis bersama pengamat kesenian dan pelaku mengkaji soal kesenian lengger di Purbalingga.(foto:priskilla tyas)

PURBALINGGA – Istilah lenggeran kerap terdengar bagi warga Purbalingga danj sekitarnya bila ada kesenian tari lengger digelar. Biasanya warga akan berduyun-duyun datang ke tempat acara. Itulah lenggeran, dimana pelaku kesenian dan masyarakat bertemu dalam satu ruang. Lengger juga sama dengan ronggeng, yang bertahan di kawasan eks karesidenan Banyumas.

Seiring perjalanan waktu Seni Lengger tengah memasuki usia senja. Para penari lengger yang kerap jadi sri panggung, bintangnya mulai redup. Dulu, bila seni lengger digelar selalu berjubal penonton. Demikian diungkapkan  Sutomo, salah seorang pemilik kesenian lengger. Upaya yang bisa dilakukan sekarang ini adalah kiat bagaimana lengger bisa bertahan dan dinikmati semua masyarakat, yakni memanfaatkan media sosial. Para seniman harus rajin, kreatif dan inovatif dalam membuat konten.

“Salah satu cara adalah kreatif memuat konten di Youtube, IG, maupun aplikasi lain,” ucapnya dalam acara “Dialog Media Tradisional : Nguri-uri Seni Lengger” di GOR Mahesa Jenar, Purbalingga, Sabtu (11/6/2022). Anggota Komisi B DPRD Jateng Mukhlis turut menjadi pembicara utama dalam dialog tersebut.

Saat berdialog, Joko Pranoto pengamat kesenian daerah Purbalingga tersebut mengungkapkan pihaknya masih menjaga eksistensi Tari Lengger ini walaupun sudah mulai ada beberapa kesenian yang sudah terlupakan. “Ada tantangan tertentu yang bersifat sosial dengan masyarakat religi, lenggeran kurang bisa diterima. Ini bentuk protes sosial dari masyarakat yang cukup menghambat,”  jelas Joko.

Karena itulah Pelaku seni tidak boleh mengubah mindset, dituntut harus pintar. Bagaimana seni tradisional membina sikap dan bisa bertahan di tengah masyarakat, seni dan religi sesuatu hal yang berbeda.

Menanggapi hal tersebut Mukhlis berharap Dinas Pariwisata ikut memfasilitasi pelaku Seni terutama di Purbalingga agar pemain seni dapat tampil di tempat-tempat Wisata, hal itu dapat saling menguntungkan untuk pemain seni itu sendiri dan tempat wisata. “Diperhatikan pula Agar disekolah sekolah juga ada fasilitas pelajaran seni tari miaalnya, adanya guru tari diperbanyak sehingga bisa mengedukasi anak-anak didik,” tegas Mukhlis (tyas/priyanto).

Info Lainnya

  • Warga Mojogedang Antusias Hijaukan Sungai

    KARANGANYAR – Warga Desa Ngadirejo Kecamatan Mojogedang merasa senang adanya kegiatan penanaman di sekitar bantaran sungai. Kegiatan yang dinamakan ‘Jogo Kali Merawat Bumi’ digalakkan Ketua DPRD Provinsi Jateng Sumanto bertujuan untuk menghijaukan area sekitar sungai supaya mengoptimalkan fungsi penyimpanan air sehingga keberadaan belik atau mata air ada lagi.

  • RAPAT PARIPURNA: Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal 

    GEDUNG BERLIAN – Dalam rapat paripurna, Kamis (2/7/2026), Komisi E DPRD Provinsi Jateng memberikan penjelasan tentang Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal. Disampaikan oleh Anggota Komisi E, Jafar Shodiq, raperda itu didasarkan atas tingginya kontribusi tenaga kerja informal memberikan kontribusi besar dalam upaya pengentasan kemiskinan dan pengangguran. 

  • Bahas Panti Sosial, Risiko Penularan TBC Disorot

    SURABAYA — Komisi E DPRD Provinsi Jateng mendesak Pemerintah Provinsi segera membenahi standard operating procedure (SOP) dari pengelolaan panti rehabilitasi sosial. Pasalnya, penataan penanganan pasien dengan penyakit menular dinilai masih sangat longgar dan mengancam keselamatan penghuni panti lainnya.

  • Pengelolaan Aset Jalan Dapat Berkontribusi PAD

    YOGYAKARTA — Penyusunan Raperda tentang Standardisasi Penyelenggaraan Jalan Provinsi tidak hanya mengatur aspek teknis pembangunan dan pemeliharaan jalan tapi juga pemanfaatan aset jalan secara optimal. Komisi D DPRD Provinsi Jateng menilai pengaturan tersebut dapat menjadi instrumen baru untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).