MEDIA TRADISIONAL: Harus Ada Regenerasi Pelaku Kesenian Kentrung

WhatsApp Image 2022 09 23 at 18.38.22

TERIMA CENDERA MATA: Anggota DPRD Nur Saadah menerima cenderamata berupa ganbar karikatur dari seniman Jepara.(foto: dyana bebeb)

JEPARA – Anggota DPRD Jateng Nur Saadah berharap ada regenerasi dari pengembangan kesenian kentrung. Sekarang ini pemain kentrung masih didominasi kalangan sepuh. Karena itulah generasi muda perlu melestarikan kentrung yang sudah menjadi budaya peninggalan wali sanga. Hal itu dikemukakanya saat mengisi kegiatan Media Tradisional DPRD Jawa Tengan dengan tema : Nguri-uri Kesenian Tradisional Kentrung dengan lakon ‘’Babad Jepara’’ di Gedung MWC NU Kecamatan Bangsri, Kamis (22/9/2022).

Menurutnya, kentrung merupakan kesenian tradisional sastra lisan yang mewujudkan sarana komunikasi rakyat melalui simbol-simbol. Simbol digambarkan lewat penokohan dan kehidupan masyarakat. Selain itu juga politik, ekonomi, idiologi, sosial, budaya dan keamanan. Pertunjukan kentrung dimainkan oleh dalang dan panjak yang mendongeng tanpa menggunakan wayang. Musik yang mengiringi kendang dan tamburin serta instrumen lain seperti jidor, terbang, templeng dan gong.

‘’Pelestarian kentrung perlu dilakukan mulai saat ini. Kalau tidak ada regenerasi, kesenian ini bisa punah. Tidak ada anak muda yang mau main kentrung, terlebih saat pandemi Covid-19 sudah tidak ada pementasan. Pemainnya butuh pendapatan,”ungkap anggota Komisi D itu.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin (Lesbumi) NU Jepara Ngateman menambahkan dengan adanya nguri-uri budaya yang dilakukan DPRD Jateng dapat mengembalikan seni kentrung yang sebelumnya tidak boleh diadakan selama 2 tahun.

‘’Sejarah kentrung ini merupakan tradisi yang sudah lama sekali, selalu dimainkan untuk acara sunat-an, syukuran bayi dan sebagainya. Untuk kentrung yang kali ini, dikolaborasi dengan cerita-cerita modern untuk menarik anak-anak milenial. Jepara sangat kuat akan kesenian, dan tidak lepas dari sejarah yang ada. Syair-syair kentrung ini menghibur dan memberikan pesan dan kesan yang positif,’’ tambah Nganteman.

Menutup dialog, Nur Saadah berharap kesenian khas jepara memang harus diuri-uri agar tidak hilang dan punah dan kelompok kesenian agar bangkit kembali untuk menghibur masyarakat, karena bisa untuk sarana dakwah, terutama lembaga NU di Jepara.(dyana/priyanto)

Berita Terkait

  • Komisi B Tertarik Budi Daya Umbi Porang

    MADIUN – Umbi porang tengah menjadi incaran pasar ekspor, mengingat memiliki banyak khasiat terutama bisa menjadi salah satu bahan dasar produk kecantikan. Karena itu budi daya tanaman porang pun menjadi idola bagi petani.

  • Sumanto: Ayo, Dorong Kesejahteraan Petani

    GEDUNG BERLIAN – Bung Karno berpesan bahwa urusan pangan adalah hidup matinya sebuah bangsa. Itu disampaikannya dalam pidato peletakan batu pertama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia yang sekarang bernama Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 27 April 1952 silam.

  • Selamat! Setwan Jateng Raih Terbaik Kedua JDIHN Award 2022

    JAKARTA – Untuk kali keduanya Sekretariat DPRD (Setwan) Provinsi Jateng kembali meraih penghargaan Jaringan Dokumentasi & Informasi Hukum Nasional (JDIHN) 2022 terbaik. Perhelatan penyerahan JDIHN Award dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Kali ini tema yang diusung “Menyongsong Satu Data Dokumen Hukum Indonesia” tersebut digelar di Ballroom Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Selasa (18/10/2022).

  • Dampak UU Cipta Kerja, Perda Jateng Perlu Diinventarisir

    YOGYAKARTA – Menyikapi putusan mengenai Undang Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 mengenai Cipta Kerja, Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Provinsi Jateng merasa perlu adanya inventaris dan langkah antisipatif terkait perda terkait. Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPRD Provinsi Jateng Quatly Abdulkadir Al Katiri, saat memimpin Diskusi Bapemperda DPRD Provinsi Jateng dan Bapemperda DPRD Provinsi DIY, Selasa (14/12/2021).