Empat Tahun Gunungkidul Bisa Turunkan Angka Kemiskinan

1000007335

PERTEMUAN : Ketua Komisi E Messy Widiastuti bersama anggota dewan berada di Kantor Bappeda Gunungkidul.(foto: setyo herlambang)

GUNUNGKIDUL – Pengentasan warga dari kemiskinan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah, terutama di daerah-daerah yang masuk kawasan zona merah. Di Yogyakarta sendiri, Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu daerah secara pelan tapi pasti mulai keluar dari zona kemiskinan.

Melalui berbagai program-progam yang dilakukan pemerintah kabupaten dan provinsi, dari 2020-2024, persentase kemiskinan semula 17,07 persen turun menjadi 15,18 persen. Penurunan inilah yang menarik minat Komisi E DPRD Jateng untuk datang ke Gunungkidul. Pada Senin (14/7/2025), DPRD berkesempatan langsung datang ke daerah yang terkenal dengan sebutan kota “Gaplek” itu.

Kepada Kepala Bappeda Gunungkidul M Arif Aldian, Ketua Komisi E Messy Widiastuti menyatakan, pihaknya ingin mendapatkan kiat mengenai Upaya menurunkan angka kemiskinan. Diakuinya keberhasilan dan keberlanjutan penanganan kemiskinan di titik-titik zona merah perlu sinergisitas dengan lintas sektoral, baik instansi terkait, BUMD, program CSR dan beberapa faktor lainnya.

 “Pengendalian kemiskinan, berhasil karena dorongan dan juga kerjasama semua pihak, ini tentunya menjadi acuan dalam program pengentasan kemiskinan yang seharusnya dilaksanakan,” kata legislator asal PDIP.

Menambahkan, anggota Komisi E Yohanes Winarto lebih menyoroti basis data penerima manfaat harus sesuai dan selaras. Karena banyak data seringkali berbeda di lapangan, tentunya pemberian manfaat jadi tidak tepat guna dan sasaran.

“Saat penyaluran manfaat, banyak ditemukan miss mulai dari data yang tidak sesuai semisal tidak tidak benar miskin tapi berkecukupan, tentunya ini sangat disesalkan dan bagaimana cara mengatasinya,” tambahnya.

M Arif Aldian menjelaskan program pengendalian dan pengentasan kemiskinan dilakukan secara bertahap dan memetakan dengan terperinci, mana saja titik titik zona merah akan dilakukan survei dan pendataan bekerja sama tidak hanya dengan dinas lain, tetapi juga dengan BUMD dan swasta. 

“Tentunya dari 2020, kami merinci beberapa titik rawan di gunung kidul mulai dari permasalahan cukup ekstrem seperti kekeringan, RTLH, faktor ekonomi dan pendidikan tidak merata dengan kerjasama lintas sektoral. Selain melakukan survei, kami juga melakukan gali potensi yang bisa dikembangkan. Banyak lokasi wisata yang tumbuh di Gunungkidul, bisa mendorong peningkatan nilai ekonomi masyarakat sekitar lewat program CSR, serta sektor perkebunan dan peternakan juga seringkali disoroti karena banyak warga memelihara sapi untuk dijual lagi, padahal sapi perah maka diberikan edukasi bagaimana memanfaatkannya,” jelas dia.(tyo/priyanto)

Info Lainnya

  • Hadapi Kekeringan, Stok Air Bendungan Masih Aman

    JEPARA – DPRD Provinsi Jateng meminta pemerintah daerah memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang. Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jateng Nur Saadah menekankan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dalam menjamin kebutuhan air masyarakat, termasuk memastikan distribusi bantuan air bersih dilakukan tanpa membebani warga terdampak.

  • Warga Mojogedang Antusias Hijaukan Sungai

    KARANGANYAR – Warga Desa Ngadirejo Kecamatan Mojogedang merasa senang adanya kegiatan penanaman di sekitar bantaran sungai. Kegiatan yang dinamakan ‘Jogo Kali Merawat Bumi’ digalakkan Ketua DPRD Provinsi Jateng Sumanto bertujuan untuk menghijaukan area sekitar sungai supaya mengoptimalkan fungsi penyimpanan air sehingga keberadaan belik atau mata air ada lagi.

  • RAPAT PARIPURNA: Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal 

    GEDUNG BERLIAN – Dalam rapat paripurna, Kamis (2/7/2026), Komisi E DPRD Provinsi Jateng memberikan penjelasan tentang Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal. Disampaikan oleh Anggota Komisi E, Jafar Shodiq, raperda itu didasarkan atas tingginya kontribusi tenaga kerja informal memberikan kontribusi besar dalam upaya pengentasan kemiskinan dan pengangguran.