Banjarnegara Butuh Intervensi Tangani Kemiskinan

20250630192859 IMG

FOTO BERSAMA. Komisi E berfoto bersama Wakhid Jumali di rumah dinas.(foto priyanto)

BANJARNEGARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjarnegara berharap banyak ada intervensi dari pemerintah supaya masalah kemiskinan bisa ditanggulangi dan ditangani. Mengandalkan anggaran daerah saja masih dinilai belum bisa menangani masalah yang sudah ada bertahun-tahun lamanya.

Penegasan tersebut disampaikan Wakil Bupati Wakhid Jumali saat menerima Komisi E DPRD Jateng di rumah dinasnya, Senin (30/6/2025). Kunjungan kerja Komisi E ke Banjarnegara merupakan rangkaian dalam penggalian data serta informasi mengenai masalah kemiskinan di daerah tersebut. Terlebih data akan masuk dalam materi draf Raperda Penanggulangan Kemiskinan di Jateng.

“Kami bersyukur Komisi E hadir di Banjarnegara untuk mendengarkan langsung paparan kami mengenai permasalahan serta penanganan kemiskinan. Ibarat kata masalah kemiskinan tidak bisa seketika terselesaikan. Bersama Purbalingga, Kebumen, masuk lima besar terbawah dalam masalah kemiskinan. Butuh intervensi yang serius dari pusat dan provinsi,” ucapnya kepada Komisi E.

Anggota Komisi E yang ditunjuk sebagai pimpinan rombongan Amin Mahsun mengakui Banjarnegara masih bermasalah dengan kemiskinan. BPS selalu menempatkan Banjarnegara bersama Kebumen dan Purbalingga masuk dalam lima besar terbawah kemiskinan di Jateng.

Dalam paparannya Kepala Bappelitbang Banjarnegara Yusuf Agung mengakui persentase kemiskinan belum bisa menjadi satu digit. Permasalahan masih kompleks termasuk pemenuhan delapan hak dasar belum juga merata.

“Persentase kemiskinan kita masih 31 persen. Tahun depan saja belum tentu bisa jadi satu digit. Masih ada 138 ribu jiwa masuk kategori miskin. Delapan hak dasar pemenuhan kebutuhan yakni rumah layak huni, jambanisasi, sanitasi, energi (listrik), disabilitas, anak putus sekolah dan pengangguran. Maka kalau Komisi E ada program renovasi rumah tidak layak huni (RTLH) bisa diarahkan ke Banjarnegara,” jelasnya.

Dilihat dari permasalahan, faktor yang melandasi kemiskinan yakni penduduk di Banjarnegara masih bergantung pada pertanian. Hanya saja secara kepemilikan luasan lahan masih dibawah 0,95 hektare sehingga kerap disebut petani gurem. Masalah pendidikan belum banyak yang menamatkan pendidikan menengah atas. Ketenagakerjaan dan UMKM juga masih rendah.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kadisnakertrans) Jateng Abdul Aziz juga menyebut nilai UMK di Banjarnegara juga terendah. Intervensi pemerintah provinsi melalui menarik investor juga dilakukan. Heru Priyambodo dari Dinas Sosial Jateng menilai pemberdayaan menjadi kunci dalam penanganan kemiskinan. “Kucuran bansos juga tidak bisa menaikkan penanggulangan kemiskinan. Kuncinya dipemberdayaan secara terus menerus. Itu bisa menjadi kunci,” ucapnya.(priyanto/ariel)

Berita Terkait

  • Satu Tahun BerlianTV, Tetap Jaga Konsistensi

    GEDUNG BERLIAN – Kanal Berlian TV milik Sekretariat DPRD Jawa Tengah pada 3 September ini tepat berusia satu tahun. Kepala Bagian Humas Suwondo menyampaikan, dengan usia yang masih belia Berlian TV memberikan sebuah pembuktian, kanal ini bisa memberikan serta menyuarakan segala kegiatan para wakil rakyat kepada masyarakat.

  • Perkuat Bapemperda, Optimalkan Prolegda

    GEDUNG BERLIAN – Mendapatkan kunjungan dari Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kabupaten Purbalingga, Ketua Bapemperda DPRD Jateng Yudi Indras Wiendarto mengajak para legislator untuk memperkuat Bapemperda dengan menyusun rencana kerja (renja) yang optimal. Ia menjelaskan, untuk menentukan renja, tentu juga harus disesuaikan dengan tatib DPRD yang berlaku sehingga pelaksanaan kerja Bapemperda dari mulai pengkajian hingga pembahasan menjadi jelas perencanaannya.

  • ​Raperda Standarisasi Jalan, Fokus Kelayakan Teknis & Standar Keselamatan

    JAKARTA – Komisi D DPRD Provinsi Jateng bersama Dinas PU Bina Marga Cipta Karya (BMCK) Provinsi Jateng mematangkan draf Raperda tentang Penyelenggaraan Standardisasi Jalan Provinsi. Konsultasi yang digelar bersama Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR di Jakarta, Senin (12/1/2026), menghasilkan sejumlah poin krusial terkait fungsi kelayakan teknis yang wajib diakomodasi dalam regulasi baru tersebut.

  • MEDIA TRADISIONAL: Ilmu Agama & Seni Budaya Harus Selaras

    SRAGEN – Menumbuhkembangkan sikap toleransi melalui kesenian dan kebudayaan tradisional menjadi pembahasan utama dalam sesi dialog laras budaya Media Tradisional (Metra) bersama DPRD Provinsi Jawa Tengah yang digelar di Lapangan Plumbungan,  Kecamatan Karangmalang, Sragen dengan tema “Pagelaran Kesenian Tradisional Santri Kabupaten Sragen” , Minggu (28/8/2022) malam.