ASPIRASI JATENG : Operasi Pasar Didorong untuk Antisipasi Lonjakan Harga

RIN

NARASUMBER : Dialog di TATV Solo menghadirkan tiga narasumber, yakni anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah Harun Abdul Khafiz (zoom), perwakilan Disperindag Jawa Tengah Moch Santoso, serta akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof Anton Agus.(foto: andirinto)

SURAKARTA – Pemerintah didorong untuk semakin gencar melaksanakan operasi pasar guna mengantisipasi potensi lonjakan harga kebutuhan bahan pokok menjelang Lebaran 2026. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memutus mata rantai distribusi pangan yang rawan praktik penimbunan.

Hal itu mengemuka dalam dialog televisi bertema “Antisipasi Lonjakan Harga Sembako Jelang Lebaran” yang disiarkan langsung oleh TATV Solo pada Selasa (10/3/2026). Dialog tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah Harun Abdul Khafiz, perwakilan Disperindag Jawa Tengah Moch Santoso, serta akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof Anton Agus.

Dalam kesempatan itu, para narasumber sepakat bahwa pemerintah perlu menyiapkan langkah strategis agar fluktuasi harga bahan pokok tetap terkendali selama Ramadan hingga Lebaran.

Harun Abdul Khafiz yang mengikuti dialog melalui sambungan Zoom menyampaikan bahwa pemerintah sebenarnya telah mulai melakukan langkah antisipasi untuk menjaga stok dan stabilitas harga pangan. Menurutnya, hingga saat ini sebagian besar harga komoditas bahan pokok masih dalam batas kewajaran.

“Mulai dari telur, minyak goreng, hingga beras, belum ada kenaikan harga yang menonjol. Hanya cabai merah dan bawang merah yang tercatat mengalami kenaikan. Mendekati Lebaran nanti bisa saja naik lagi, tetapi untuk komoditas lain per 10 Maret masih relatif aman,” ujarnya.

Sementara itu, Moch Santoso menegaskan bahwa pemerintah daerah terus menjalankan berbagai upaya stabilisasi harga pangan sesuai instruksi dari pemerintah pusat. Salah satu langkah yang digencarkan adalah pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah.

Ia menyebutkan, sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah bersama pemerintah provinsi telah melaksanakan program tersebut. Di Kota Semarang saja, sekitar 240 lokasi telah disiapkan untuk kegiatan operasi pasar. Santoso juga mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan stok bahan pangan menjelang hari raya.

“Stok pangan masih tersedia dan pemerintah terus berupaya menjaga agar distribusi berjalan lancar,” katanya.

Di sisi lain, Prof Anton Agus menekankan bahwa pemerintah pusat maupun daerah harus memastikan distribusi kebutuhan pokok tetap lancar. Menurutnya, kelancaran logistik menjadi kunci utama dalam menjaga ketersediaan barang di pasaran selama Ramadan hingga Lebaran.

“Regulator harus memastikan kebutuhan masyarakat tetap tersedia. Momentum Ramadan dan Lebaran sering kali diikuti gangguan distribusi, sehingga arus logistik dan transportasi harus dikendalikan dengan baik,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengendalian harga tidak cukup hanya dengan pemantauan pasar. Pemerintah juga perlu mengambil langkah konkret apabila terjadi lonjakan harga yang tidak wajar, seperti melalui operasi pasar atau penetapan kebijakan harga acuan.

Selain itu, pemerintah juga perlu memperhitungkan siklus musim tanam dan panen agar pasokan bahan pangan tetap terjaga. Beberapa komoditas yang dinilai rawan mengalami kenaikan harga menjelang hari raya antara lain cabai, bawang, telur ayam, daging ayam dan sapi, minyak goreng, serta gula pasir. Permintaan terhadap komoditas tersebut biasanya meningkat menjelang Lebaran.

Anton juga menyoroti potensi dampak kenaikan harga terhadap daya beli masyarakat berpenghasilan rendah. Menurutnya, intervensi pemerintah sangat diperlukan agar lonjakan harga tidak semakin membebani masyarakat. “Perubahan harga sangat terasa bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Karena itu, intervensi pemerintah penting agar lonjakan tidak terlalu memberatkan,” ujarnya.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan, karena kepanikan justru dapat memicu kenaikan harga di pasar. “Belanjalah secara bijak sesuai kebutuhan,” pungkasnya.(hini/red.)

Info Lainnya

  • Warga Mojogedang Antusias Hijaukan Sungai

    KARANGANYAR – Warga Desa Ngadirejo Kecamatan Mojogedang merasa senang adanya kegiatan penanaman di sekitar bantaran sungai. Kegiatan yang dinamakan ‘Jogo Kali Merawat Bumi’ digalakkan Ketua DPRD Provinsi Jateng Sumanto bertujuan untuk menghijaukan area sekitar sungai supaya mengoptimalkan fungsi penyimpanan air sehingga keberadaan belik atau mata air ada lagi.

  • RAPAT PARIPURNA: Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal 

    GEDUNG BERLIAN – Dalam rapat paripurna, Kamis (2/7/2026), Komisi E DPRD Provinsi Jateng memberikan penjelasan tentang Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Informal. Disampaikan oleh Anggota Komisi E, Jafar Shodiq, raperda itu didasarkan atas tingginya kontribusi tenaga kerja informal memberikan kontribusi besar dalam upaya pengentasan kemiskinan dan pengangguran. 

  • Bahas Panti Sosial, Risiko Penularan TBC Disorot

    SURABAYA — Komisi E DPRD Provinsi Jateng mendesak Pemerintah Provinsi segera membenahi standard operating procedure (SOP) dari pengelolaan panti rehabilitasi sosial. Pasalnya, penataan penanganan pasien dengan penyakit menular dinilai masih sangat longgar dan mengancam keselamatan penghuni panti lainnya.

  • Pengelolaan Aset Jalan Dapat Berkontribusi PAD

    YOGYAKARTA — Penyusunan Raperda tentang Standardisasi Penyelenggaraan Jalan Provinsi tidak hanya mengatur aspek teknis pembangunan dan pemeliharaan jalan tapi juga pemanfaatan aset jalan secara optimal. Komisi D DPRD Provinsi Jateng menilai pengaturan tersebut dapat menjadi instrumen baru untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).